Sembilan Jam Sebelum Hari Itu... [2]

...

Dalam hati gue,

"Masya Allah, beruntungnya teteh ini"

Kemudian, flashback ke kejadian-kejadian sebelumnya. Ada beberapa perlakuan sekaligus pernyataan yang membuat gue terhentak kembali.

Pertama, salat tarawih biasa dimulai dengan salat Isya berjamaah. Setelah salat Isya berjamaah kami lakukan, dilanjutkan dengan dzikir dan doa yang dipimpin oleh imam atau mungkin orang penting di masjid itu. Teteh ini bertanya,

"Kalau itu barusan doa ya?"

Oke, alhamdulillahnya bisa menjawab sedikit,

"Iya, teh. Itu tadi dzikir setelah salat dilanjut dengan doa"

Tibalah saatnya untuk salat sunnah setelah salat wajib. Disaat itu gue masih duduk dan belum berdiri memang, kembali teteh ini bertanya,

"Teteh ngga salat sunnah setelah Isya? Kan ada kan ya salat sunnah sehabis Isya?"

Deg... Gue kembali malu, gue yang 'dilahirkan' dengan anugerah bahwa gue adalah seorang muslimah masih banyak maksiat dan nakal-nakalnya. Tapi teteh ini? Malah dia yang mengingatkan gue untuk salat sunnah yang dianjurkan untuk mendapat ridho-Nya, apalagi ini bulan yang sangat mulia.

Kedua, di saat salat tarawih selesai beberapa rakaat, kembali dia bertanya. Maaf tapi gue agak lupa pertanyaannya. Di saat itu gue tarawih dengan menggunakan mukena seperti di rumah. Tiba-tiba teteh menjulurkan tangannya ke wajah gue. Gue bingung. Dan gue kaget saat dia membenarkan rambut gue yang, maaf, keluar dari jalurnya. Oke, ini kedua kalinya dirimu membuat gue malu sebagai muslimah. Sekaligus mengingatkan gue dengan hal-hal kecil seperti itu ya harus dijaga.

Ketiga, masih ada lagi. Saat bercerita, teteh ini bilang,

"Enak ya yang udah bisa baca quran. Target aku pas Ramadhan sudah bisa baca quran, tapi ternyata belum bisa. Aku masih iqro empat"

Lagi, lagi, dan lagi, gue malu. Dimana gue yang sudah difasilitasi orangtua untuk belajar quran sedari kecil saja sampai sekarang tetap masih suka lalai 💔. Tapi, teteh ini sangat-sangat ingin untuk bisa belajar quran dan membacanya. Masya Allah.

Itu hanya sedikit hal-hal yang bisa gue ceritakan tentang peringatan Allah ke gue. Gue merasa, itu bentuk kasih sayang-Nya, mengingatkan gue dengan cara yang tidak terduga. Mengingatkan gue dengan cara yang tidak biasa gue terima sebelumnya. Dengan cara seperti itu, mungkin Dia memahami bagaimana gue dapat terenyuh untuk tetap memuja-Nya lebih dan lebih lagi. Terutama ini adalah bulan mulia, yang paling ditunggu-tunggu banyak umat Islam.





يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Comments

Popular Posts