Sembilan Jam Sebelum Hari Itu... [1]
Kira-kira sekitar sembilan jam sebelum hari itu. Hari yang ditunggu-tunggu umat Islam untuk menjumpainya lagi.
Yap. Pastinya Ramadhan 😊
Tepat saat sembilan jam sebelum menghadapi Ramadhan yang diawali dengan salat tarawih. Niat gue seperti niat biasa yang ingin merasakan hikmatnya bacaan salat tarawih, apalagi sedang berada di tanah perantauan. Ketika itu, gue memutuskan untuk berangkat bersama dengan teman-teman yang lain menuju masjid terdekat dari kosan gue.
Kami menuju masjid dengan bismillah,
Itu harapan gue. Seketika kami sampai, masih kosong dan sepi. Kebetulan mungkin, masih jarang orang yang datang untuk menunaikan salat tarawih pertamanya. Sesampainya di selasar masjid, yang memang diperuntukkan untuk saf akhwat, teman-teman gue menggelar sajadah. Sama seperti teman-teman lain, gue juga melakukannya. Dan kebetulan juga mungkin, gue menggelar sajadah di bagian paling pinggir dari teman-teman gue. Dengan keadaan seperti itu banyak sekali kemungkinan gue akan berbincang sedikit dengan siapapun yang akan menggelar sajadahnya di samping gue. Tibalah saat itu.
Salah seorang jamaah tarawih datang setelah kami datang. Dia menggelar sajadah yang dibawanya di samping gue. Saat itu gue masih belum tersadarkan. Tak lama, dia bertanya ke gue,
Gue jawab dengan datar dan ramah seperti bertemu dengan orang baru yang tidak dikenal,
Dilanjut dengan anggukan darinya yang berarti menerima jawaban gue. Kemudian teteh itu kembali bertanya,
Kembali lagi gue jawab dengan nada biasa dan ramah seperti sebelumnya,
Setelah gue beberes dengan sajadah dan mukena yang gue pakai, berdiamlah gue mendengar persiapan dari imam di masjid tersebut.
Tiba-tiba terdengar kalimat yang membuat gue terhentak sedikit.
Hah? Suatu hal yang jarang sekali gue dengar. Apa benar?? Gue pun menyeru,
Dilanjut dengan pernyataannya,
Duh, dengan penampilan yang seperti ini? Dia seorang mualaf? Suatu hal yang sangat jarang gue dengar. Oke, gue gambarkan penampilannya, dia memakai baju tertutup, syar'i, kerudung panjang, ditambah dengan hand sock yang menutupi auratnya, dan.. bercadar. Mualaf?? Masya Allah.
Setelahnya dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan gue yang penasaran dengan dirinya,
Dimana gue selama ini hanya mendengar dari cerita orang-orang sekitar atau membaca posting/cerita orang yang berani mengambil pilihan tersebut. Dia bercerita alasannya singkat.
Apa? Karena pacar? Yap. Teteh ini bercerita, awal mula dia berani 'merasakan' hal ini saat pacarnya, yang saat itu merupakan seorang muslim, ingin hijrah. Pacar teteh ini pernah berbincang dengannya, dimana pembicaraannya bahwa dia ingin hijrah, dia mengutarakan bahwa pacaran ataupun sejenisnya dilarang oleh Islam. Lalu, teteh ini menganggap,
Beberapa kali pacar teteh ini berbincang tentang hal itu. Sampai di suatu waktu, pacar teteh ini izin untuk salat. Teteh ini bilang begini,
Kembali lah gue terhentak. Ditambah malu. Dari situ lah teteh ini akhirnya memutuskan untuk mempelajari Islam. Sampai akhirnya keputusannya bulat, dia datang ke salah satu kajian yang diadakan di Bandung, tepatnya mengundang Ust. Adi Hidayat, dia bilang dia suka
dengan cara ustaz ini menyampaikan. Beruntungnya, akhirnya teteh ini disyahadatkan oleh beliau 😊
*to be continued*
Yap. Pastinya Ramadhan 😊
Tepat saat sembilan jam sebelum menghadapi Ramadhan yang diawali dengan salat tarawih. Niat gue seperti niat biasa yang ingin merasakan hikmatnya bacaan salat tarawih, apalagi sedang berada di tanah perantauan. Ketika itu, gue memutuskan untuk berangkat bersama dengan teman-teman yang lain menuju masjid terdekat dari kosan gue.
Kami menuju masjid dengan bismillah,
"Semoga tetap ada hikmatnya bacaan salat tarawih walaupun sedang tidak berada di rumah dengan keluarga"
Salah seorang jamaah tarawih datang setelah kami datang. Dia menggelar sajadah yang dibawanya di samping gue. Saat itu gue masih belum tersadarkan. Tak lama, dia bertanya ke gue,
"Di sini tarawihnya berapa rakaat ya?"
"Wah saya juga kurang tau, teh. Saya juga baru pertama kali salat tarawih di sini"
Dilanjut dengan anggukan darinya yang berarti menerima jawaban gue. Kemudian teteh itu kembali bertanya,
"Biasanya kalau tarawih berapa rakaat ya?"
Kembali lagi gue jawab dengan nada biasa dan ramah seperti sebelumnya,
"Kalau aku di rumah sih kalau ngga 11 ya 23 rakaat, teh. Itu udah ditambah dengan witir di akhir"
Setelah gue beberes dengan sajadah dan mukena yang gue pakai, berdiamlah gue mendengar persiapan dari imam di masjid tersebut.
Tiba-tiba terdengar kalimat yang membuat gue terhentak sedikit.
"Ini salat tarawih pertama saya, teh", serunya berkata.
Hah? Suatu hal yang jarang sekali gue dengar. Apa benar?? Gue pun menyeru,
"Serius, teh?"
Dilanjut dengan pernyataannya,
"Iya teh, saya mualaf"
Duh, dengan penampilan yang seperti ini? Dia seorang mualaf? Suatu hal yang sangat jarang gue dengar. Oke, gue gambarkan penampilannya, dia memakai baju tertutup, syar'i, kerudung panjang, ditambah dengan hand sock yang menutupi auratnya, dan.. bercadar. Mualaf?? Masya Allah.
Setelahnya dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan gue yang penasaran dengan dirinya,
"Apasih alasannya menjadi mualaf?"
Dimana gue selama ini hanya mendengar dari cerita orang-orang sekitar atau membaca posting/cerita orang yang berani mengambil pilihan tersebut. Dia bercerita alasannya singkat.
Apa? Karena pacar? Yap. Teteh ini bercerita, awal mula dia berani 'merasakan' hal ini saat pacarnya, yang saat itu merupakan seorang muslim, ingin hijrah. Pacar teteh ini pernah berbincang dengannya, dimana pembicaraannya bahwa dia ingin hijrah, dia mengutarakan bahwa pacaran ataupun sejenisnya dilarang oleh Islam. Lalu, teteh ini menganggap,
"Ya sudah kalau mau hijrah menjadi lebih baik ya silahkan, aku tidak akan melarang"
Beberapa kali pacar teteh ini berbincang tentang hal itu. Sampai di suatu waktu, pacar teteh ini izin untuk salat. Teteh ini bilang begini,
"Saat itu serasa ada yang berbisik ke telinga saya dan timbul pertanyaan, kenapa aku tidak diajak untuk salat? Kalau memang itu baik, aku juga ingin salat"
Kembali lah gue terhentak. Ditambah malu. Dari situ lah teteh ini akhirnya memutuskan untuk mempelajari Islam. Sampai akhirnya keputusannya bulat, dia datang ke salah satu kajian yang diadakan di Bandung, tepatnya mengundang Ust. Adi Hidayat, dia bilang dia suka
dengan cara ustaz ini menyampaikan. Beruntungnya, akhirnya teteh ini disyahadatkan oleh beliau 😊
*to be continued*
Comments
Post a Comment