Sedikit tentang Ikigai
Apasih Ikigai? Beberapa orang pasti pernah denger tentang kata ini. Beberapa hari lalu karena emang ngga bisa kemana-mana untuk social distancing karena coronavirus dan bosan, jadi iseng buat nyari-nyari buku bacaan. Eh ketemu nih salah satu buku yang ngebahas tentang Ikigai. Kalo yang mau baca sendiri dari bukunya judul bukunya "The Book of Ikigai", penulisnya Ken Mogi, Ph. D.
Jadi, Ikigai itu berasal dari bahasa Jepang. Ikigai terbentuk dari 2 kata, yaitu "iki" (untuk hidup) dan "gai" (alasan). Sebenernya dari arti kata aja udah keliatan ya kira-kira maksudnya apa. Intinya, Ikigai itu merupakan istilah Jepang yang menjelaskan tentang kesenangan dan makna kehidupan digabung jadi satu, yang menghasilkan seseorang bisa punya makna kehidupan dengan kesenangan sesuai sama apapun yang disenangi sama orang tersebut. Nah, Ikigai ini punya 5 pilar utama. Pilarnya itu ada:
1. Pilar 1 : Awali dengan Hal yang Kecil
2. Pilar 2 : Bebaskan Dirimu
3. Pilar 3 : Keselarasan dan Kesinambungan
4. Pilar 4 : Kegembiraan dari Hal-hal Kecil
5. Pilar 5 : Hadir di Tempat dan Waktu Sekarang
Ini sebenernya kan bahasa Jepang ya, nah itu pilar-pilar yang sekiranya udah diterjemahin ke bahasa Indonesia. Semua pilar itu ngga bisa kerja satu-satu, harus berbarengan, dan pilar-pilar itu juga bukan tingkatan. Tapi, pilar-pilar itu penting buat mengembangkan yang namanya Ikigai. Ikigai sendiri emang berasal dari kebiasaan orang Jepang. Tapi, ngga berarti yang bukan orang Jepang ngga bisa memraktikkan Ikigai di kehidupan sehari-hari.
Ikigai ini bisa digunakan dalam banyak konteks, dan bisa diterapkan pada hal-hal kecil di keseharian kita, meski kita ngga sukses dalam kehidupan profesional kita. Soalnya kita hidup di dunia yang banyak banget nilai-nilai utama diri kita itu ditentukan sama kesuksesan kita yang keliatan, contohnya promosi jabatan, punya investasi yang mumpuni, juara kompetisi ini-itu, dan lainnya, yang bisa ngebuat kita mengalami tekanan yang kadang ngga dibutuhkan. Tetap kita bisa memiliki Ikigai tanpa harus ada pembuktian-pembuktian akan hal-hal tersebut.
Salah satu perbincangan TED yang judulnya "Cara untuk Hidup Hingga Usia 100+", pembicaranya juga membahas tentang Ikigai sebagai salah satu etos untuk kesehatan dan usia panjang. Dari beberapa penelitian bilang bahwa ada beberapa wilayah yang memiliki penduduk dengan usia lebih dari 80 tahun, bahkan ada yang sampe 100 tahun lebih. Mereka memraktikkan yang namanya Ikigai ini dalam hidupnya. Cukup simpel, seperti seorang nelayan dengan usia 100 tahun bilang kalo Ikigainya bisa dicapai saat dia bisa menangkap ikan sebanyak 3 kali seminggu untuk keluarganya atau seorang master Karate dengan usia 102 tahun bilang kalo Ikigainya bisa tercapai dengan dia bisa terus memelihara seni bela dirinya. Pilihan-pilihan sederhana dalam hidup itu sama seperti hakikat Ikigai sendiri: rasa berkomunitas, diet seimbang, dan kesadaran spiritualitas yang baik. Ngga heran kalo mereka yang bisa menerapkan Ikigainya punya kondisi kesehatan jasmani dan rohani yang bagus. Nah, hal ini yang bisa meningkatkan kesempatan hidup seseorang lebih lama dibandingkan sama mereka yang ngga menerapkan Ikigai dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini juga bisa dilihat bahwa akumulasi dari kesuksesan kecil seseorang bisa meningkatkan rasa Ikigai itu sendiri. Selain itu, dengan hal-hal sederhana yang membahagiakan merujuk pada pilar 1 Ikigai sendiri: awali dengan hal yang kecil.
Jadi, Ikigai itu berasal dari bahasa Jepang. Ikigai terbentuk dari 2 kata, yaitu "iki" (untuk hidup) dan "gai" (alasan). Sebenernya dari arti kata aja udah keliatan ya kira-kira maksudnya apa. Intinya, Ikigai itu merupakan istilah Jepang yang menjelaskan tentang kesenangan dan makna kehidupan digabung jadi satu, yang menghasilkan seseorang bisa punya makna kehidupan dengan kesenangan sesuai sama apapun yang disenangi sama orang tersebut. Nah, Ikigai ini punya 5 pilar utama. Pilarnya itu ada:
1. Pilar 1 : Awali dengan Hal yang Kecil
2. Pilar 2 : Bebaskan Dirimu
3. Pilar 3 : Keselarasan dan Kesinambungan
4. Pilar 4 : Kegembiraan dari Hal-hal Kecil
5. Pilar 5 : Hadir di Tempat dan Waktu Sekarang
Ini sebenernya kan bahasa Jepang ya, nah itu pilar-pilar yang sekiranya udah diterjemahin ke bahasa Indonesia. Semua pilar itu ngga bisa kerja satu-satu, harus berbarengan, dan pilar-pilar itu juga bukan tingkatan. Tapi, pilar-pilar itu penting buat mengembangkan yang namanya Ikigai. Ikigai sendiri emang berasal dari kebiasaan orang Jepang. Tapi, ngga berarti yang bukan orang Jepang ngga bisa memraktikkan Ikigai di kehidupan sehari-hari.
Ikigai ini bisa digunakan dalam banyak konteks, dan bisa diterapkan pada hal-hal kecil di keseharian kita, meski kita ngga sukses dalam kehidupan profesional kita. Soalnya kita hidup di dunia yang banyak banget nilai-nilai utama diri kita itu ditentukan sama kesuksesan kita yang keliatan, contohnya promosi jabatan, punya investasi yang mumpuni, juara kompetisi ini-itu, dan lainnya, yang bisa ngebuat kita mengalami tekanan yang kadang ngga dibutuhkan. Tetap kita bisa memiliki Ikigai tanpa harus ada pembuktian-pembuktian akan hal-hal tersebut.
Salah satu perbincangan TED yang judulnya "Cara untuk Hidup Hingga Usia 100+", pembicaranya juga membahas tentang Ikigai sebagai salah satu etos untuk kesehatan dan usia panjang. Dari beberapa penelitian bilang bahwa ada beberapa wilayah yang memiliki penduduk dengan usia lebih dari 80 tahun, bahkan ada yang sampe 100 tahun lebih. Mereka memraktikkan yang namanya Ikigai ini dalam hidupnya. Cukup simpel, seperti seorang nelayan dengan usia 100 tahun bilang kalo Ikigainya bisa dicapai saat dia bisa menangkap ikan sebanyak 3 kali seminggu untuk keluarganya atau seorang master Karate dengan usia 102 tahun bilang kalo Ikigainya bisa tercapai dengan dia bisa terus memelihara seni bela dirinya. Pilihan-pilihan sederhana dalam hidup itu sama seperti hakikat Ikigai sendiri: rasa berkomunitas, diet seimbang, dan kesadaran spiritualitas yang baik. Ngga heran kalo mereka yang bisa menerapkan Ikigainya punya kondisi kesehatan jasmani dan rohani yang bagus. Nah, hal ini yang bisa meningkatkan kesempatan hidup seseorang lebih lama dibandingkan sama mereka yang ngga menerapkan Ikigai dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini juga bisa dilihat bahwa akumulasi dari kesuksesan kecil seseorang bisa meningkatkan rasa Ikigai itu sendiri. Selain itu, dengan hal-hal sederhana yang membahagiakan merujuk pada pilar 1 Ikigai sendiri: awali dengan hal yang kecil.
Ikigai adalah tentang menemukan, menjelaskan, dan menghargai kesenangan-kesenangan hidup yang memiliki arti bagi seseorang
- Ken Mogi
Seorang anak secara general, belum memiliki keterikatan terhadap makna status sosial di dalam dirinya sendiri terhadap lingkungannya. Sama seperti konsep dari Ikigai juga, ada di pilar 2: bebaskan dirimu. Dengan Ikigai seseorang tidak memilih posisi pekerjaan atau hal lainnya berdasarkan dari "keistimewaan" nya terhadap status sosial. Melainkan orang dengan Ikigai akan memilih pekerjaan dan hal-hal lain dalam kehidupan berdasarkan dengan passion dan keinginan hatinya sendiri, meskipun bukan sesuatu yang memiliki "keistimewaan" di mata orang lain atau lingkungannya. Hal ini berpengaruh juga dengan cara mereka bekerja. Mereka akan bekerja dengan penuh semangat dan keinginan hati yang kuat untuk mencapai kepuasan terhadap hasil yang mau mereka raih. Bukan sekadar hanya memenuhi perintah bos aja. Hasilnya yang didapat pasti akan merujuk pada hasil yang unik dan khas dari tiap individu, karena keinginan dan hasrat dari tiap individu pasti berbeda. Bahkan terkadang mereka lebih mementingkan dengan keindahan dari sesuatu yang mereka produksi dibandingkan dengan jumlahnya. Karena dengan terlalu banyak pesanan atau jumlah yang diproduksi, maka akan berkurang juga waktu mereka untuk menggapai hasil yang benar-benar mereka inginkan terhadap sesuatu tersebut.
Buat contoh, waktu itu sempat liat snapgram Okin, selebgram di indo. Snapgramnya berisi tentang salah satu penjual martabak yang cuma mau menjual sekitar 5 martabak tiap hari. Pembuatan buat 1 martabak itu bisa sekitar 30-60 menit. Pas Okin tanya kenapa lama, ya karena bapak penjual ini mau hasil martabaknya sesuai dengan yang dia inginkan. Pas pembeli bilang, "lama amat sih pak", si bapak malah marah dan jawab, "ya kalo mau cepet sana ke tempat martabak lain aja sana". Dari hasil menunggu yang lama banget itu, Okin dan orang-orang lain emang bilang kalo martabak bapak ini enak banget sebenernya. Menurut gw ini salah satu contoh Ikigai. Yaa pasti pro dan kontra karena pasti mayoritas orang mikir gimana caranya coba itu bapak buat menuhin kebutuhan sehari-hari kalo cuma mau jual sekitar 5 martabak tiap hari. Tapi ini sebenernya bisa aja dimodifikasi sama individunya sendiri.
Dari cerita di atas juga bisa merujuk ke pilar lain dari Ikigai, pilar 5: hadir di tempat dan waktu sekarang. Maksudnya gimana? Merujuk ke contoh tadi, bapak ini bener-bener mau untuk hadir di tempat dan waktu sekarang. Dia ga mau sama sekali untuk menyia-nyiakan waktu yang dia punya untuk bikin martabak yang asal-asalan menurut dia. Makanya dia mau untuk buat martabak yang enak itu dengan waktu yang ga sebentar untuk memuaskan dirinya, karena belum tentu juga di waktu-waktu lain dia bisa punya kesempatan untuk buat martabak spesial itu dengan tangannya.
Selain pilar 2 dan 5, dalam contoh ini juga merujuk ke pilar 4: kegembiraan akan hal-hal kecil. Bapak penjual martabak itu mau membuat martabak dengan waktu yang lama dan ketelitian tinggi yang dilakukannya pasti untuk menggapai kegembiraannya sendiri dalam hal-hal kecil yang ia sukai, misalnya saat dia menaburkan coklat di atas martabaknya dengan presisi yang pas atau dengan ketebalan yang merata di tiap sisi, saat dia membuat adonan dengan komposisi bumbu yang pas dan akhirnya menciptakan rasa yang diinginkan, atau saat dia memotong martabak dan menekuk martabak dengan ukuran yang diinginkan. Dalam Ikigai ga bisa pilar-pilar tersebut bekerja sendiri dan bukan tingkatan. Dari contoh satu aja udah bisa mencerminkan nilai Ikigai di beberapa pilar.
Ikigai juga berhubungan erat dengan menjaga keselarasan dengan lingkungan, orang-orang sekitar, dan masyarakat secara luas. Hal ini berkaitan dengan adanya pilar 3: keselarasan dan kesinambungan. Salah satu contohnya itu ada di salah satu kuil di Jepang, yaitu Kuil Ise. Kuil ini dibilang kuil keramat di Jepang. Bentuk kuil ini sederhana, ga terlalu besar, dan bisa dibilang kuno. Kuil ini dibangun dengan pertukangan khusus, seperti pembangunan kuil ini ga menggunakan paku satu pun. Bahkan kayu yang digunakan juga khusus, sehingga setiap beberapa dekade akan ditumbuhkan pohon tertentu yang dapat menghasilkan kayu-kayu khusus untuk setiap renovasi yang dilakukan. Meskipun kuil ini bisa dibilang kuno banget, tapi pernyataan dari salah satu pendeta Buddha terkenal yang berkunjung mengatakan bahwa kuil ini bener-bener punya jiwa yang murni dan damai sampai pendeta tersebut meneteskan air mata saat berkunjung ke dalam Kuil Ise. Keselarasan dan kesinambungan dalam perawatan tersebut bisa menjaga kelestarian Kuil Ise dengan aura yang sama dari awal dibangun hingga sekarang dan masih eksis dikunjungi banyak orang walaupun dengan arsitektur kuno, bukan juga kuil yang besar dan megah. Jadi ga berarti Ikigai membuat seseorang menjadi pribadi yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan hanya mementingkan dirinya sendiri untuk memenuhi kepuasan pribadi.
Dari buku ini gw jadi belajar tentang Ikigai yang bisa menghidupkan hidup dari salah satu sisi. Hidup yang ga melulu tentang pride dan status sosial yang mumpuni, tapi tentang keinginan hati yang bisa menghidupkan. Ga selamanya "berada di atas" itu nunjukkin kebahagiaan sesungguhnya sebagai manusia. Ga selamanya menjadi "biasa-biasa" aja itu buruk, justru dengan gitu seseorang bisa menemukan siapa jati diri yang sesungguhnya dia inginkan. Tapi, menurut gw Ikigai merupakan ideologi pribadi yang ga bisa dikembangkan dalam waktu cepat. Justru dengan keseimbangan di berbagai sisi, Ikigai perlu untuk diasah setiap hari.
Comments
Post a Comment