Opini Tentang Anak Rantau
Kali ini gue akan bahas tentang salah satu novel kesukaan gue yang sebenernya udah lama gue beli tapi baru dibaca akhir-akhir ini. Judulnya Anak Rantau dari Ahmad Fuadi.
Novel ini diterbitkan sejak 2017. Tapi gue baca baru 2019 hahahah 😅. Dari judulnya aja udah membuat gue tertarik. Secara timingnya tepat banget waktu itu gue lagi ada di masa-masa awal merantau dari rumah gue.
Pertama, nih gue kasih tau cover bukunya seperti apa. Jeng..jeng..
Novel ini diterbitkan sejak 2017. Tapi gue baca baru 2019 hahahah 😅. Dari judulnya aja udah membuat gue tertarik. Secara timingnya tepat banget waktu itu gue lagi ada di masa-masa awal merantau dari rumah gue.
Pertama, nih gue kasih tau cover bukunya seperti apa. Jeng..jeng..
Simpel sih ya covernya, tapi ngga tau kenapa terasa filofisnya(?).
Sebelum ceritain tentang novelnya, lihat dulu lah siapa pengarangnya. Check it out!
Penulisnya punya nama lengkap Ahmad Fuadi. Bapak A. Fuadi ini lahir di Bayur, kampung kecil pinggir Danau Maninjau. Kalo yang ngga tau, ya sekitaran Sumatera Barat sana lah. Beliau merantau ke tanah Jawa buat memenuhi permintaan orangtua masuk sekolah agama. Mulia banget yha, wkwkwk. Beliau ini lulusan dari Pesantren Modern Gontor. Sempat kuliah di UNPAD loh jurusan Hubungan Internasional. Kemudian beliau melanjutkan S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University, USA. Pernah jadi wartawan di Voice of America (VOA) juga loh. Keren yah 😌. Nah, karya-karya yang lain tuh ngga kalah terkenal juga loh. Hayo apa? Kalo yang suka baca-baca novel atau keliling gramedia/toko buku pasti tau lah. Beliau penulis dari sekuel Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Mantepp banget ngga tuh. Dari penulis, kita cuss masuk ke cerita aja nih, hehehe.
Cerita Anak Rantau ini menceritakan tentang seorang anak, bernama lengkap Donwori Bihepi, yang sering dipanggil Hepi. Diceritanya itu Hepi merupakan anak piatu yang sudah kehilangan ibunya, Nurbaiti, sejak setengah jam setelah dia lahir (semoga ngga salah ya wkwk). Ayahnya bernama Martiaz, merupakan pemilik salah satu toko percetakan di bilangan Jakarta. Hepi punya kakak nih yang bernama Dora.
Singkat cerita, Hepi ini anak yang pinter gitu sering juara dan dipuja-puji kepintarannya di salah satu SMP. Hal ini lantaran dia suka banget baca-baca hal baru di toko-toko buku langganan ayahnya daerah Kwitang (perlu dicontoh nih!!!). Tapi, sayangnya Hepi itu anak yang badung, sering bolos, dan yang paling parah dia ujian tapi ngga jawab apapun di lembar jawabannya. Aneh banget ngga sih?!. Nah, akhirnya setelah pengambilan rapor, Hepi ngga naik kelas. Akhirnya ayahnya memutuskan buat mengajak Hepi ke kampung halaman di daerah Tanjung Durian, Sumatera Barat. Awalnya Hepi seneng banget tuh setelah sekian lama dia hidup di dunia akhirnya tercapai keinginan untuk balik kampung seperti teman-teman lain yang sering berlibur di kampung dan bisa cerita-cerita menarik di kampung masing-masing. Hingga setelah beberapa hari, Martiaz bilang ke anaknya, Hepi, bahwa Hepi harus tinggal di kampung bersama dengan Kakek dan Neneknya untuk belajar dari alam kampungnya. Hepi juga udah didaftarkan SMP di sana. Martiaz sebenarnya berat untuk meninggalkan anaknya, tapi mau gimana lagi menurutnya. Hepi kira ini sebuah candaan ayahnya, tapi ternyata bener-bener Hepi ditinggal ayahnya pergi naik bus ke Padang sendirian dengan cacian,
"Kalau kau mau pulang, beli tiket sana dengan uang sendiri"
Bus langsung melaju kencang meninggalkan Hepi yang masih usaha lari-lari sampe kopernya terbuka dan semua pakaiannya terlempar sepanjang jalan. Setelah itu, Hepi bener-bener marah dan dendam sama ayahnya. Nah, dari sini cerita dimulai.
Akhirnya Hepi memutuskan mengumpulkan uang untuk menunjukkan ke ayahnya bahwa dia bisa pulang ke Jakarta dengan uang sendiri. Semenjak Hepi ditinggal sama Martiaz banyak banget yang dialami Hepi. Pengalamannya untuk bantu-bantu cuci piring di lapau Mak Tuo, jadi kurir pengantar toko milik mantan preman, jadi asisten kakeknya di surau, dan lainnya banyak semua dilakoni. Semua itu dia lakukan demi mendapat uang beli tiket pesawat ke Jakarta. Perasaan setiap harinya mulai campur aduk, dari senang, miris, sampe ke kisah heroik nan haru yang pintar dibawakan sama penulisnya. Dari sini, Hepi mulai menjadi pribadi yang mudah marah, mudah dendam, tapi akhirnya menjadi pribadi yang mudah memaafkan, tidak pantang menyerah, dan fokus dengan apa yang dia tuju. Hepi juga belajar beneran jadi polisi dari HT yang dia punya pemberian ayahnya, dengan nama samaran Alfa Juliet yang dia karang sendiri. Hepi juga belajar untuk mengenal dirinya dan Tuhannya Yang Maha Kuasa. Banyak banget hal lain juga yang bisa diambil untuk diaplikasikan dalam kehidupan.
Buku ini dijamin mendidik! Dari semua bagiannya, yang paling menarik ada di bagian akhir yang plot twist banget! Bagian ini adalah plot twist yang membongkar segala keresahan halaman-halaman sebelumnya, terus heroik + haru gitu bacanya. Mantepp sih bagian akhirnya paling gue suka! Harus baca sih, baru mengerti gimana plot twist yang gue maksud 👌
Dari novel ini banyak juga pesan moral yang bisa diambil, dari bagaimana cara bisa mengenal diri sendiri dulu untuk mengenal Tuhan, bagaimana segala amarah, dendam, dan sumpah-serapah kekesalan berubah menjadi permohonan maaf, bagaimana apa-apa yang menjadi "sampah" bukan berarti sampah sesungguhnya melainkan "berlian" yang tersimpan dalam tertimbun sampah, bagaimana mengenal dunia ternyata banyak "muka dua" nya, sampe bagaimana cara menjadi pribadi yang kuat, pantang menyerah, dan memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan. Banyak banget deh yang bisa dipelajarin, ngga bisa dimasukkin satu per satu. Dijamin ngga akan menyesal 😉
Itu aja sih opini gue tentang novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi ini. Novel ini jadi salah satu yang gue sangat rekomendasikan untuk dibaca buat kaum millennials wkwkwk. Bagus banget untuk membangun jati diri klean 🙆
The whole world opened to me, when I learned to read - Mary M. Bethone
Yuk, budayakan membaca! 💟
Sumber gambar :
https://hot.detik.com/book/d-3545936/novel-anak-rantau-ahmad-fuadi-rilis-hari-ini
https://hot.detik.com/book/d-3555450/penantian-panjang-ahmad-fuadi-di-novel-anak-rantau


Comments
Post a Comment