Free Me, please!
Free
Bebas
Kebebasan
Kata-kata itu adalah kata yang memang disenangi banyak orang, dari anak kecil, remaja, bahkan sampai orang dewasa sekalipun.
Dari kbbi, arti bebas sendiri adalah tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa.
Beberapa hari yang lalu gue emang lumayan sering cek account facebook yang memang udah lama ngga pernah gue liat. Buka facebook dari aplikasi yang muncul pertama adalah home/timeline. Yang biasa gue lakukan akhir-akhir ini di sana baca timeline, buka page yang menurut gue bisa dishare atau like, dan terkadang gue chat temen atau bales pesannya.
Sekarang facebook emang udah jarang digunain bagi beberapa orang, tapi masih banyak juga yang pakai platform ini untuk sharing dan chatting. Salah satunya sepupu gue.
Sepupu gue ini terbilang masih di usia baru remaja, umurnya sekitar SMP, umur tepatnya gue kurang tau. Sepupu gue ini memang memiliki jiwa yang pemberani dibanding teman-temannya (agak nakal). Suatu waktu sepupu gue nulis status yang kurang lebih intinya seperti ini,
"Pas gue diem di rumah dimarahin, main hp dimarahin, pas keluar rumah dicariin, ngga pulang dicariin. Gue butuh pergaulan, gue iri sama temen-temen yang lebih dingertiin. Kalo mau gue betah di rumah tolong jangan terlalu ngekang. Gue ngga mau durhaka sama orang tua, gue lebih baik nenangin diri di luar"
Semacam itu lah status sepupu gue di facebook.
Di sini gue melihat kurang lebih sama kaya gue ditahun-tahun sebelumnya, disaat gue masih seumuran sama sepupu gue ini. Mungkin hanya beda cara pandang gue sama sepupu gue.Pertama, opini gue tentang kebebasan seorang anak. Mungkin bagi beberapa anak di luar sana ada yang memang gampang buat mendapat kebebasan dari orang tuanya, tapi ngga sedikit juga yang susah dan sulit, Pakai cara apapun ngga bakal dapet yang namanya kebebasan. Kebebasan juga menurut gue punya banyak arti, beda anak, beda arti. Tapi yang sama adalah pasti semua anak ingin punya kebebasan mereka sendiri, entah dalam hal apapun, terutama dari hal yang mereka sukai, mereka nyaman, dan mereka inginkan.
Kedua, opini gue tentang kebebasan yang diberikan orang tua. Beda orang tua, beda cara pandang, apalagi tentang kebebasan itu sendiri. Tapi ada hal yang sama untuk orang tua, mereka ngga mau terjadi hal yang ngga diinginkan terjadi sama anak mereka. Apalagi hal-hal buruk yang rawan terjadi sama anak-anak, remaja apalagi.
Ketiga, opini pribadi gue tentang persamaan persepsi kebebasan antara anak dan orang tua. Yang namanya orang tua sama anak, walaupun sama gen atau kromosom, tetep aja untuk pemikiran pasti beda-beda. Saat anak ingin A, orang tua inginnya B. Dan hal ini bukan hal mudah untuk disatuin dan disamakan. Justru itu tantangannya! Gimana caranya agar si anak dan orang tua bisa mendapat satu titik pertemuan, di mana ada hak dan kewajiban anak yang terpenuhi, ada pula hak dan kewajiban orang tua yang terpenuhi.
Menurut gue beberapa anak belum bisa menafsir apasih yang terbaik buat dirinya, apasih yang kurang baik buat dirinya. Nah, di sini peran orang tua diperbolehkan masuk. Utarakan semua pendapat (beserta alasan dan dampak yang bakal terjadi) menurut sisi pemikiran mereka. Buat si anak untuk lebih mikir, kalau pilihannya A gimana, kalau pilihannya B gimana. Di situ mungkin si anak akan berpikir tentang hasil dan dampak yang bakal mereka dapetin, menurut versi mereka.
Selanjutnya, persamakan persepsi! Buat si anak coba sesekali terima pemikiran pilihan orang tua masing-masing, buat ibu/ayah coba dengarkan pilihan anak juga dan jangan egois untuk hasil akhirnya.
Sedikit pengalaman, yang gue rasakan dulu adalah disaat gue dikasih pilihan, antara A dan B, pas gue ingin pilih A, orang tua gue lebih pilih B, gue dibujuk dan diarahkan supaya gue pilih B. Disaat itu gue merasa tidak ada kebebasan gue dalam memilih yang ngebuat gue berpikir,
"Yaudah kalo emang gue harus pilih B kenapa gue dikasih pilihan, kalo emang gue sukanya A ya kenapa gue harus pilih B"
Sampai di titik di mana gue males untuk memilih dan cuma bilang terserah saat dikasih pilihan. Di sini bukannya gue bilang cara didiknya salah, tentunya NO!, tapi akan lebih baik apabila orang tua mengutarakan kenapa harus pilih B dan anak juga jelasin kenapa dia lebih pilih A.
Dibeberapa kasus juga, orang tua merasa karena mereka lebih paham tentang kehidupan mungkin, jadinya mereka merasa pilihan mereka selalu benar. Ya untuk pilihan-pilihan yang memang merujuk ke kebaikan dan keburukan kehidupan, it's okay, mereka pasti punya pandangan lebih banyak. Tapi, untuk masalah mengenai hobi, kesukaan, minat dari si anak, mereka bukan Anda, mereka ya mereka, punya minat sendiri, punya bakat sendiri, punya potensi sendiri, dan mereka berhak untuk mendapatkan kebebasan akan hal itu.
Untuk beberapa kasus juga, ada kalanya anak ingin belajar hal baru. Disaat anak melakukan kesalahan yang mungkin seharusnya, kalau anak itu ngga melakukan hal baru tersebut ngga akan terjadi kesalahan itu. Tapi, pelajaran yang terbaik adalah dari pengalaman sendiri! Ngga cuma teori-teori yang para ahli buat, ngga cuma cuit-cuit tetangga sebelah, ngga cuma pelajaran yang mungkin diterima di sekolah. Itu hal yang biasa dilakukan anak-anak. Selagi masih anak-anak atau remaja, mereka butuh pengalaman baru, mereka butuh pemikiran baru, yang tentunya bisa menunjang pemikiran-pemikiran di masa mendatang dan membenahi pemikiran-pemikiran di masa yang udah lewat. Biarkan mereka mencari jati dirinya, mencari pengalaman-pengalaman barunya, tentunya juga untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang, biarkan mereka berbuat salah di masa mudanya daripada harus salah di masa datangnya :)
Dan yang mungkin agak perlu digaris bawahi, saat anak berbuat salah, jangan diintimidasi, jangan membuat anak merasa bahwa dirinya tidak berguna karena selalu berbuat salah disetiap hal baru yang mereka lakukan. Mungkin perkataan tetangga sebelah yang bilang,
"Namanya juga anak-anak, maklumin aja"
Adalah kalimat yang bagus untuk mendeskripsikan hal ini. Ya, maklumin aja, cukup nasihati dengan kalimat-kalimat membangun, tapi lagi-lagi, jangan mengintimidasi. Gue yakin, anak-anak atau remaja sama sekali ngga berniat melakukan kesalahan, sangat ingin untuk menbahagiakan orang tua, sangat ingin untuk membuat orang tua bangga, akan hal-hal yang kami lakukan, semua anak pasti punya rasa itu.
Balik ke status sepupu gue yang berbunyi,
"Gue butuh pergaulan" itu menarik.
Semua manusia adalah makhluk sosial, pastinya butuh pergaulan. Tapi, pergaulan seperti apa dulu. Pergaulan itu banyak, ada pergaulan di sekolah, di kampus, di keluarga, di lingkungan sekitar, sampai pergaulan bebas. Bagi anak, memang pergaulan hal yang lumayan crucial, ditinjau dari fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Bagi orang tua, pergaulan itu penting banget. Jangan sampai pergaulan membuat anak-anaknya jadi pribadi yang salah, dampaknya yaitu salah pergaulan. Di sini, menurut gue, orang tua cukup banyak memiliki hak untuk membatasi pergaulan si anak. Bagus lagi kalau orang tua mengarahkan si anak ke pergaulan yang baik-baik, misal, ngikutin anaknya ke ekstrakulikuler, ngikutin anaknya untuk les musik, ngikutin anaknya untuk ikut les balet, dan sebagainya. Tapi, lagi-lagi, jangan memaksa, kalo memang si anak sudah sangat menolak keinginan orang tua akan pergaulan yang mereka inginkan untuk anaknya.
Dari gue,
Untuk beberapa orang tua,
Kebebasan emang penting untuk daya kembang anak, apalagi remaja, yang masih galau-galaunya, alay-alaynya dalam mencari jati diri, berikan seperlunya, jangan berlebihan, nasihati anak jika anak melakukan kesalahan, dan tolong jangan intimidasi diri mereka karena kesalahan yang mereka perbuat, mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, mereka ingin membanggakanmu, mereka ingin membahagiakanmu, tentunya semua caramu akan mereka hargai, akan mereka ingat, karenanya carailah mereka dengan cara-cara yang sewajarnya.
Untuk beberapa anak/remaja yang mungkin membaca,
Kebebasan bagus untuk kita, kebebasan bagus banget untuk masa depan kita, tapi tetap ingat, orang tua pasti punya keinginan untuk memberikan yang terbaik buat anaknya. Bagaimanapun sifat orang tua mengenai kebebasan kita, mohon dimaklumi kalau tidak sesuai dan mohon diapresiasi kalau memang sesuai. Apresiasi dengan cara memberikan hasil terbaik dari kesempatan yang sudah diberikan oleh orang tua kepada kita, seperti nilai yang bagus, meraih juara, seminimalnya tidak membuat orang tua kecewa terhadap kebebasan yang udah mereka kasih ke kita. Keep up our spirit to do something good for them!
Kiranya itu yang bisa gue utarakan, mungkin sedikit curhat.
Let's love our family!
Comments
Post a Comment